Saturday, 24 March 2012

4 Golongan lelaki yang ditarik wanita ke neraka

Di akhirat, wanita akan menarik empat golongan lelaki bersamanya ke dalam neraka. Artikel ini bukan untuk memperkecilkan wanita tetapi sebaliknya supaya kaum lelaki memainkan peranannya dengan hak & saksama berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta berwaspada akan tanggungjawab yang dipikul!
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji & sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.....tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.
2. Suaminya
Apabila si suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan muhrim apabila suami mendiam diri walaupun dia seorang alim seperti solat tidak bertangguh, puasa tidak tinggal maka dia akan turut ditarik oleh isterinya ke neraka.
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya.....jikalau mereka hanya mementing keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM ...tunggulah tarikan adiknya ke neraka kelak.
4. Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari Islam, bila ibu membuat kemungkaran pengumpat, mengata & sebagainya, maka anak itu akan disoal dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Nantikan tarikan ibunya ke neraka.
Maka kita lihat betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat, maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan masing-masing.
Firman Allah SWT:-
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)
Harga seseorang muslim adalah sangat berharga. ALLAH SWT nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA, semua kaum muslimin yakni yang mengucap kalimah tauhid dijamin masuk syurga dengan itu janganlah kita membuang atau tidak mengendah janji dan peluang yg ALLAH SWT berikan pada kita

Sunday, 18 March 2012

Anang ~ Separuh Jiwaku Pergi (Lirik / Lyrics)

Khatimah Cinta-Six Sense.wmv

Mahabbah (Cinta) kepada Allah dan Rasul-Nya

~Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang~

Assalamualaikum w.b.t..

Al-Zujaj menyatakan bahwa cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya dan redha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.

Sahabat yang dicintai Allah,

Cinta adalah sumber tenaga dan kekuatan, sehingga sanggup berkorban apa sahaja demi mempertahankan cinta. Cinta orang tua kepada anak atau cinta suami kepada isteri dan sebaliknya, mestilah dibuktikan dengan pengorbanan dan perjuangan, barulah cinta itu tulen. Begitu pula cinta kita kepada Allah, ia memerlukan kepada satu pengorbanan untuk memastikan ketulenan cinta tersebut.

Bila kita sanggup berjuang berhempas pulas untuk membuktikan cinta kita kepada anak dan isteri dengan memberi apa sahaja yang mereka mahu, maka tidak ada sebab mengapa kita tidak sanggup melakukan perkara yang sama untuk membuktikan cinta kita kepada Allah. Berbeza cinta kita kepada makhluk sama ada anak, isteri, suami, orang tua dan sebagainya, maka cinta kepada Allah merupakan sumber kebahagiaan yang hakiki. Janganlah kita mencintai anak, isteri, suami, harta, rumah, pangkat, kekayaan, kemegahan; pendek kata mencintai dunia melebihi cinta kita kepada Allah dan RasulNya. Cinta kepada dunia akan berakhir dengan berakhirnya kehidupan ini, tetapi cinta kepada Allah kekal hingga dibawa mati.

Firman Allah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (TQS. at-Taubah [9] : 24).

Manusia yang terlalu mencintai dunia akan menjadikan kehidupannya tertumpu kepada dunia. Banyak masa dihabiskan untuk mengejar kemegahan, kekuasaan, kemewahan, dan kerakusan mengumpul harta (wang, tanah, rumah, kereta), sehingga masa untuk mengingati Allah dan Rasul hanya tertinggal untuk waktu solat sahaja. Apabila solat juga tertinggal, maka tiada ruang untuk Allah dan Rasul di hati selain dunia. Bermakna cinta sejati bukan untuk Allah dan Rasul tetapi untuk segala apa yang dikejar di dunia yang fana ini.

Firman Allah: ”Adapun orang yang melampaui batas; dan dia lebih mengutamakan kehidupan dunia semata-mata. Maka sesungguhnya nerakalah tempat kediamannya. Dan adapun orang yang takutkan kebesaran Tuhannya dan dia menahan dirinya daripada menurut keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat kediamannya” (surah al- Nazi’at:37-41)

Apabila kita mencinta Allah dan Rasul, bermakna segala bentuk kehidupan kita tercurah kepadaNya. Jiwa, raga, ibadah, ingatan, perasaan, pekerjaan dan berbuatan sentiasa untuk Allah dan Rasul. Setiap yang dilakukan didunia ini adalah semata-mata kerana Dia, bukan kerana manusia atau pun kebendaan. Sebenarnya, apabila cinta kita hanya untuk Allah dan Rasul serta ingatan kita terhadap akhirat dapat diserapkan di dalam hati, maka dunia akan bersama menyertai kita. Bermakna kita dapat kedua-duanya. Sebaliknya jika kita mencintai dunia melebihi Allah, maka kita hanya akan dapat cinta dunia sahaja, tanpa cinta Allah dan Rasul.
Cinta (mahabbah) kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang wajib ada pada seorang hamba sebagai konsekuensi keimanannya. Allah SWT –-dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24— telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain. Bahkan Allah SWT memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan mafhum syar’i, karena diwajibkan oleh Allah SWT.

Sudah selayaknya manusia merenungkan betapa besar cinta Allah kepadanya. Bagaimana bisa, kita tidak mencintai Dzat yang tiada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Dia dan tiada yang dapat melenyapkan keburukan selain Dia. Tiada Dzat yang mengabulkan do’a-do’a, yang melenyapkan semua kesulitan, yang mengampuni semua kesalahan, yang memaafkan semua kekurangan, yang menolong orang-orang meminta pertolongan, dan yang telah melimpahkan semua karunia, kecuali Dia.

Imam Ibnul Qayyim dalam bukunya, al-jawab al-kafi liman sa’ala ‘an ad-dawa’ asy-syafi menjelaskan, “Cinta itu merupakan sendi kehidupan hati dan makanan pokok jiwa. Hati tidak akan dapat merasakan kelazatan, kenikmatan, kebahagiaan, dan kehidupan tanpa cinta di dalamnya. Apabila hati telah kehilangan cinta, maka penderitaannya terasa lebih sakit daripada derita yang dialami oleh mata di kala ia kehilangan cahayanya, dan hidung di kala ia kehilangan penciumannya, serta lisan di kala kehilangan suaranya. Bahkan hati, ketika di dalamnya hampa akan cinta terhadap Sang Penciptanya, sakitnya akan lebih dahsyat dari rosaknya tubuh karena sakit jiwa. Perkara ini sulit dipercayai kebenarannya, kecuali bagi orang yang hidup hatinya.”

Seberapa sering kita mengintrospeksi diri dan bertanya pada diri kita; seberapa besar kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya?

Sudahkah kita membuktikan kecintaan itu dengan mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah SAW yang kita cintai dan menjauhi semua yang dilarang oleh keduanya?

Perhatikanlah kembali perasaan anda dan perasaan cinta anda kepada Allah SWT dan Nabi SAW.

Ingatlah selalu sabda Rasulullah SAW:“Seseorang itu akan dihimpunkan bersama dengan orang yang dicintainya.”

Imam Nawawi telah meriwayatkan dalam Syarah Muslim tentang arti cinta kepada Rasulullah SAW dari Abu Salamah al-Khaththaby. Dalam Syarah itu dikatakan, ”…Engkau tidak dikatakan benar-benar mencintaiku hingga dirimu binasa dalam taat kepadaku, dan engkau lebih mementingkan redhaku daripada hawa nafsumu, meski engkau binasa karenanya.”

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengakui bahwa dirinya mencintai Allah dan Rasul-Nya, padahal dia mengerjakan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah, tuntunan, dan petunjuk Allah dan Rasul-Nya?

Bagaimana seseorang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, sementara kehidupannya justru diisi dengan aktiviti-aktiviti yang bertentangan dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya?

Atau bahkan menentang dan menghujat syari’at Allah dan Rasul-Nya?

Mencintai Allah dan Rasul-Nya berarti taat kepada keduanya. Artinya, melaksanakan syari’at Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan kita. Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Allah SWT yang terkandung dalam al-Qur’an dan maksud Rasulullah SAW dalam sunnahnya. Perbanyaklah membaca al-Qur’an, merenungi maknanya, mempelajari, menghafal, dan mengamalkannya.

Demikian pula, kita senantiasa mempelajari hadits dan sirah Rasulullah SAW, sehingga kita mengetahui betapa mulia akhlaqnya, betapa zuhudnya terhadap dunia, mengetahui bagaimana cara hidup beliau, bagaimana keperibadian beliau, mengetahui syari’at yang dibawa beliau, dan bagaimana cara dan metode da’wah beliau, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian meneladaninya.

Tidak memahami syari’at Allah dan Rasul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudharatan dunia-akhirat.

Sungguh, mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan. Karena hanya dengan itu, hati menjadi tenang dan tenteram, dan hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan redha Allah dan Rasul-Nya.

Special thanks to my officer, Mr Adnan Husin for sharing this article via email with me. Semoga Allah melimpahkan keberkatan dalam kehidupan tuan. InsyaAllah.

Saturday, 17 March 2012

Sekadar Untuk Renungan

NOTA HATI SEORANG WANITA
Dua bilah kayu disatukan dengan paku. Dua ketul bata disatukan dengan simen. Dua hati di satukan dengan apa? Jawabnya, dengan iman. Dua hati yang beriman akan mudah disatukan. Jika dua hati mengingati yang SATU, pasti mudah keduanya bersatu. Begitulah dua hati suami dan isteri, akan mudah bersatu bila iman di dalam diri masing-masing sentiasa disuburkan.
Bukan tidak pernah terguris. Bukan tidak pernah bertelagah. Tetapi jika di hati sama-sama masih ada ALLAH, perdamaian akan mudah menjelma semula. Yang bersalah mudah meminta maaf. Yang benar mudah memberi maaf. Tidak ada dendam memanjang. Masam cuma sebentar. Pahit hanya sedikit. Itulah yang ditunjuk oleh teladan rumah tangga Rasulullah s.a.w. Ada ribut… tetapi sekadar di dalam cawan. Ada gelombang… tetapi cepat-cepat menjadi tenang.
Jika ditanyakan kepada dua hati yang bercinta, siapakah yang lebih cinta pasangannya? Maka jawabnya, siapa yang lebih cintakan Allah, dialah yang lebih cintakan pasangannya. Justeru, janganlah hendaknya hanya berfikir bagaimana hendak mengekalkan cinta antara kita berdua, tetapi berusahalah terlebih dahulu agar mencintai kepada yang Esa. Jika kita bersama cintakan yang Maha Kekal, pasti cinta kita akan berkekalan.
Jika paku boleh berkarat, simen boleh retak, maka begitulah iman, boleh menaik dan menurun. Iman itu ada “virusnya”. Virus iman ialah ego (takbur). Jangan ada takbur, cinta pasti hancur. Orang takbur merasa dirinya lebih mulia, pasangannya lebih hina. Jika demikian, manakah ada cinta? Cinta itu ibarat dua tangan yang saling bersentuhan. Tidak ada tangan yang lebih bersih. Dengan bersentuhan, keduanya saling membersihkan. Tetapi ‘tangan’ yang ego, tidak mahu bersentuhan… Konon takut dikotorkan oleh tangan yang lain!
Bila berbeza pandangan, pandangannya sahaja yang benar. Kau isteri, aku suami. Aku ketua, kau pengikut. Aku putuskan, kau ikut saja. Jangan cuba menentang. Menentang ertinya dayus. Maka terkapa-kapalah sang isteri tanpa boleh bersuara lagi. Sedikit cakap, sudah dibentak. Senyap-senyap, isteri menyimpan dendam. Suami ‘disabotaj’nya dalam diam. Tegur suami, dijawabnya acuh tak acuh. Senyumnya jadi tawar dan hambar. Perlahan-lahan, jarak hati semakin jauh. Cinta semakin rapuh

Mencari Ketenangan Hati

Ketenangan itu dicapai melalui zikrullah. Namun zikrullah yang bagaimana dapat memberi kesan dan impak kepada hati? Ramai yang berzikir tetapi tidak tenang. Ada orang berkata, “ketika saya dihimpit hutang, jatuh sakit, dicerca dan difitnah, saya pun berzikir. Saya ucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allah hu Akbar beratus-ratus malah beribu-ribu kali tetapi mengapa hati tidak tenang juga?”
Zikrullah hakikatnya bukan sekadar menyebut atau menuturkan kalimah. Ada bezanya antara berzikir dengan “membaca” kalimah zikir. Zikir yang berkesan melibatkan tiga dimensi – dimensi lidah (qauli), hati (qalbi) dan perlakuan (fikli). Mari kita lihat lebih dekat bagaimana ketiga-tiga dimensi zikir ini diaplikasikan.
Katalah lidah kita mengucapkan subhanallah – ertinya Maha Suci Allah. Itu zikir qauli. Namun, pada masa yang sama hati hendaklah merasakan Allah itu Maha Suci pada zat, sifat dan af’al (perbuatannya). Segala ilmu yang kita miliki tentang kesucian Allah hendaklah dirasai bukan hanya diketahui. Allah itu misalnya, suci daripada sifat-sifat kotor seperti dendam, khianat, prasangka dan sebagainya.
  • Dimensi kata, rasa dan tindakan
Jika seorang hamba yang berdosa bertaubat kepada-Nya, Allah bukan sahaja mengampunkannya, malah menghapuskan catatan dosa itu, bahkan menyayangi dan memberi “hadiah” kepadanya. Firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”At Tahrim 8
Firman Allah lagi:
“… Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri” al baqarah 222.
Sifat ini berbeza sekali dengan kita manusia yang kekadang begitu sukar memaafkan kesalahan orang lain. Dan segelintir yang mampu memaafkan pula begitu sukar melupakan – forgive yes, forget not! Hendak memberi hadiah kepada orang yang bersalah mencaci, memfitnah dan menghina kina? Ah, jauh panggang daripada api! Begitulah kotornya hati kita yang sentiasa diselubungi dendam, prasangka dan sukar memaafkan. Tidak seperti Allah yang begitu suci, lunak dan pemaaf. Jadi, apabila kita bertasbih, rasa-rasa inilah yang harus diresapkan ke dalam hati. Ini zikir qalbi namanya.
Tidak cukup di tahap itu, zikrullah perlu dipertingkatkan lagi ke dimensi ketiga. Hendaklah orang yang bertasbih itu memastikan perlakuannya benar-benar menyucikan Allah. Ertinya, dia melakukan perkara yang selaras dengan suruhan Allah yang Maha Suci dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Yang halal, wajib, harus dan sunat dibuat. Manakala yang haram dan makruh ditinggalkannya. Zina, mengumpat, mencuri, memfitnah dan lain-lain dosa yang keji dan kotor dijauhi. Bila ini dapat dilakukan kita telah tiba di dimensi ketiga zikrullah – zikir fikli!  
Sekiranya ketiga-tiga dimensi zikrullah itu dapat dilakukan, maka kesannya sangat mendalam kepada hati. Sekurang-kurang hati akan dapat merasakan empat perkara:
  • Rasa kehambaan.
  • Rasa bertuhan.
  • Memahami maksud takdir.
  • Mendapat hikmah di sebalik ujian.
Hati adalah sumber dari segala-galanya dalam hidup kita, agar kehidupan kita baik dan benar, maka kita perlu menjaga kebersihan hati kita. Jangan sampai hati kita kotori dengan hal-hal yang dapat merosak kehidupan kita apalagi sampai merosak kebahagiaan hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti. Untuk menjaga kebersihan hati maka kita juga perlu untuk menjaga penglihatan, pendengaran, fikiran, ucapan kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan menjaga hal-hal tersebut kita dapat menjaga kebersihan hati kita. Dengan hati yang bersih kita gapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
  • Rasa kehambaan.
Rasa kehambaan ialah rasa yang perlu ada di dalam hati seorang hamba Allah terhadap Tuhan-Nya. Antara rasa itu ialah rasa miskin, jahil, lemah, bersalah, hina dan lain-lain lagi. Bila diuji dengan kesakitan, kemiskinan, cercaan misalnya, seorang yang memiliki rasa kehambaan nampak segala-galanya itu datang daripada Allah. Firman Allah:
“Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakal orang-orang yang beriman.” At Taubah: 51
Seorang hamba akan pasrah dan merasakan bahawa dia wajar diuji. Bukankah dia seorang hamba? Dia akur dengan apa yang berlaku dan tidak mempersoalkan mengapa aku yang diuji? Kenapa aku, bukan orang lain? Ini samalah dengan mempersoalkan Allah yang mendatangkan ujian itu. Menerima hakikat bahawa kita layak diuji akan menyebabkan hati menjadi tenang. Jika kita “memberontak” hati akan bertambah kacau.
Imam Ghazali rhm pernah menyatakan bahawa cukuplah seseorang hamba dikatakan sudah “memberontak” kepada Tuhannya apabila dia menukar kebiasaan-kebiasaan dalam hidupnya apabila diuji Allah dengan sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya, dia tidak lalu mahu makan-minum secara teratur, tidak mandi, tidak menyisir rambut, tidak berpakaian kemas, tidak mengemaskan misai dan janggut dan lain-lain yang menjadi selalunya menjadi rutin hidupnya. Ungkapan mandi tak basah, tidur tak lena, makan tak kenyang adalah satu “demonstrasi” seorang yang sudah tercabut rasa kehambaannya apabila diuji.
Bila ditimpa ujian kita diajar untuk mengucapkan kalimah istirja’ – innalillah wa inna ilaihi rajiun. Firman Allah:
“…Iaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-nyalah kami kembali.” Al baqarah 156
Mengapa kita diperintahkan mengucapkan istirja’? Kalimah ini sebenarnya mengingatkan kita agar kembali merasakan rasa kehambaan. Bahawa kita adalah hamba milik Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Kita layak, patut dan mesti diuji kerana kita hamba, bukan tuan apalagi Tuhan dalam hidup ini.
  • Rasa bertuhan.
Rasa kehambaan yang serba lemah, miskin, kurang dan jahil itu mesti diimbangi oleh rasa bertuhan. Bila kita rasa lemah timbul pergantungan kepada yang Maha kuat. Bila kita rasa kurang timbul pengharapan kepada yang Maha sempurna. Bila miskin, timbul rasa hendak meminta kepada yang Maha kaya. Rasa pengharapan, pengaduan dan permintaan hasil menghayati sifat-sifat Allah yang Maha sempurna itulah yang dikatakan rasa bertuhan.
Jika rasa kehambaan menyebabkan kita takut, hina, lemah sebaliknya rasa bertuhan akan menimbulkan rasa berani, mulia dan kuat. Seorang hamba yang paling kuat di kalangan manusia ialah dia yang merasa lemah di sisi Allah. Ketika itu ujian walau bagaimana berat sekalipun akan mampu dihadapi kerana merasakan Allah akan membantunya. Inilah rasa yang dialami oleh Rasulullah SAW yang menenteramkan kebimbangan Sayidina Abu Bakar ketika bersembunyi di gua Thaur dengan katanya, “la tahzan innallaha maana – jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita!”
Rasa bertuhan inilah yang menyebabkan para nabi dan Rasul, mujaddid dan mujtahid, para mujahid dan murabbi sanggup berdepan kekuatan majoriti masyarakat yang menentang mereka mahupun kezaliman pemerintah yang mempunyai kuasa. Tidak ada istilah kecewa dan putus asa dalam kamus hidup mereka. Doa adalah senjata mereka manakala solat dan sabar menjadi wasilah mendapat pertolongan Allah. Firman Allah:
“Dan pohonlah pertolongan dengan sabar dan solat.” Al Baqarah.
Dalam apa jua keadaan, positif mahupun negatif, miskin ataupun kaya, berkuasa ataupun rakyat biasa, tidak dikenali ataupun popular, hati mereka tetap tenang. Firman Allah:
“Dialah Tuhan yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang yang beriman, supaya keimanan mereka makin bertambah daripada keimanan yang telah ada. Kepunyaan Allah tentang langit dan bumi, dan Allah itu Maha Tahu dan Bijaksana.” Al Fathu 4.
Bila hati tenang berlakulah keadaan yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya:
Maksudnya: Amat menarik hati keadaan orang beriman, semua pekerjaannya baik belaka, dan itu ada hanya pada orang beriman: Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur. Dan itu memberikannya kebaikan (pahala). Jika ditimpa bahaya (kesusahan), dia sabar dan itu juga memberikannya kebaikan.” – Al Hadis.
  • Memahami maksud takdir Allah.
Mana mungkin kita mengelakkan daripada diuji kerana itu adalah takdir Allah SWT. Yang mampu kita buat hanyalah meningkatkan tahap kebergantungan kita kepada Allah di samping berusaha sedaya upaya menyelesaikan masalah itu. Ungkapan yang terkenal: We can’t direct the wind but we can adjust our sail – kita tidak mampu mengawal arah tiupan angin, kita hanya mampu mengawal kemudi pelayaran kita.
Kemudi dalam pelayaran kehidupan kita hati. Hati yang bersifat bolak-balik (terutamanya bila diuji) hanya akan tenang bila kita beriman kepada Allah – yakin kepada kasih-sayang, keampunan dan sifat pemurah-Nya. Dalam apa jua takdir yang ditimpakan-Nya ke atas kita adalah bermaksud baik sekalipun kelihatan negatif. Baik dan buruk hanya pada pandangan kita yang terbatas, namun pada pandangan-Nya yang Maha luas, semua yang ditakdirkan ke atas hamba-Nya pasti bermaksud baik.
Tidak salah untuk kita menyelesaikan masalah yang menimpa (bahkan kita dituntut untuk berbuat demikian), namun jika masalah itu tidak juga dapat diselesaikan, bersangka baik kepada Allah berdasarkan firman-Nya:
“Ada perkara yang kamu tidak suka tetapi ia baik bagi kamu dan ada perkara yang kamu suka tetapi ia buruk bagi kamu, Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”
Surah Al Baqarah : 216
Seorang ahli hikmah, Ibn Atoillah menjelaskan hakikat ini menerusi katanya, “barang siapa yang menyangka sifat kasih sayang Allah terpisah dalam takdir-Nya, maka itu adalah kerana pen¬deknya penglihatan akal dan mata hati seseorang.”
Siapa tidak inginkan kekayaan, malah kita dituntut mencari harta. Namun jika setelah berusaha sedaya upaya, masih miskin juga, bersangka baiklah dengan Tuhan… mungkin itu caranya untuk kita mendapat pahala sabar. Begitu juga kalau kita ditakdirkan kita tidak berilmu, maka berusahalah untuk belajar, kerana itulah maksud Allah mentakdirkan begitu.
Kalau kita berkuasa, Allah inginkan kita melaksanakan keadilan. Sebaliknya, kalau kita diperintah (oleh pemimpin yang baik), itulah jalan untuk kita memberi ketaatan. Rupanya cantik kita gunakan ke arah kebaikan. Hodoh? kita terselamat daripada fitnah dan godaan. Ya, dalam apa jua takdir Allah, hati kita dipimpin untuk memahami apa maksud Allah di sebalik takdir itu.
Jadi, kita tidak akan merungut, stres dan tertekan dengan ujian hidup. Hayatilah kata-apa yang ditulis oleh Ibnu Atoillah ini:
“Untuk meringankan kepedihan bala yang menimpa, hendak dikenal bahawa Allah-lah yang menurunkan bala itu. Dan yakinlah bahawa keputusan (takdir) Allah itu akan memberikan yang terbaik.”
Tadbirlah hidup kita sebaik-baiknya, namun ingatlah takdir Tuhan sentiasa mengatasi tadbir insan. Jangan cuba mengambil alih “kerja Tuhan” yakni cuba menentukan arah angin dalam kehidupan ini tetapi buatlah kerja kita, yakni mengawal pelayaran hidup kita dengan meningkatkan iman dari semasa ke semasa. Kata bijak pandai: “It’s not what happens to you, but it’s what you do about it. It is not how low you fall but how high you bounce back!”
  • Mendapat hikmah bila diuji.
Hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik yang tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh “mehnah” – didikan langsung daripada Allah melalui ujian-ujian-Nya. Ra¬sul¬ullah s.a.w. bersabda, “perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya (tahi besi) dan tinggallah yang baik sahaja!”
Jika tidak diuji, bagaimana hamba yang taat itu hendak mendapat pahala sabar, syukur, reda, pemaaf, qanaah daripada Tuhan? Maka dengan ujian bentuk inilah ada di kalangan para rasul ditingkatkan kepada darjat Ulul Azmi – yakni mereka yang paling gigih, sabar dan berani menanggung ujian. Ringkas¬nya, hikmah adalah kurnia termahal di sebalik ujian buat golongan para nabi, siddiqin, syuhada dan solihin ialah mereka yang sentiasa diuji.
Firman Allah: Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam syurga sedangkan kepada kamu belum datang penderitaan sebagai¬mana yang dideritai orang-orang terdahulu daripada kamu, iaitu mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan ke¬goncangan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya merintih: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
(Surah al-Baqarah: 214)
Pendek kata, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud-maksud yang baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan ber¬dosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu peng¬ampunan. Manakala dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat.
Justeru, telah sering para muqarrabin (orang yang hampir dengan Allah) tentang hikmah ujian dengan berkata: “Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah.
Apabila keempat-empat perkara ini dapat kita miliki maka hati akan sentiasa riang, gembira dan tenang dengan setiap pekerjaan yang dilakukan. Sentiasa melakukan kerja amal, tolong menolong, bergotong royong, sentiasa bercakap benar, sopan dan hidup dengan berkasih sayang antara satu dengan lain.
Marilah kita bersihkan hati kita dari segala kotorannya dengan memperbanyak zikrullah. Itulah satu-satunya jalan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti. Manusia perlukan zikir umpama ikan perlukan air. Tanpa zikir, hati akan mati. Tidak salah memburu kekayaan, ilmu, nama yang baik, pangkat yang tinggi tetapi zikrullah mestilah menjadi teras dan asasnya.
Insya-Allah, dengan zikrullah hati kita akan lapang sekalipun duduk di dalam pondok yang sempit apatah lagi kalau tinggal di istana yang luas. Inilah bukti keadilan Allah kerana meletakkan kebahagiaan pada zikrullah – sesuatu yang dapat dicapai oleh semua manusia tidak kira miskin atau kaya, berkuasa atau rakyat jelata, hodoh atau jelita. Dengan itu semua orang layak untuk bahagia asalkan tahu erti dan melalui jalan yang sebenar dalam mencarinya. Rupa-rupanya yang di cari terlalu dekat… hanya berada di dalam hati sendiri!

Temani Aku Hingga ke Syurga


Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki pergiliran pagi, siang, petang dan malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan tangan. Harus. Kita tak mungkin selamat mengharungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Kerana, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan mudah terpedaya.
“Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (Qs. An Nisa:28)
Saudaraku,
Kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah lah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat. Allah SWT memberitakan bahwa hanya pertemanan atas dasar iman dan takwalah yang abadi.
“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67).
Ibnu Katsir mengatakan, “Seluruh pertemanan dan persahabatan yang tidak kerana Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan.” Begitu juga pesan Rasul SAW dalam haditsnya, yang menyebutkan bahwa kita akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang kita cintai.
Saudaraku,
Merenunglah. Siapa orang-orang yang kita cintai? Siapa orang-orang yang paling dekat dalam hidup dan hati kita? Siapa orang yang menghiasi ingatan kita? Siapa orang yang menemani langkah-langkah hidup kita? Orang solehkah dia? Mengajak pada kebaikan dan keridhaan Allah kah dia? Bayangkanlah persahabatan orang beriman di akhirat sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. “Ada dua orang mukmin yang bersahabat dan berteman akrab. Salah seorang di antara keduanya meninggal lebih dahulu dan ia mendapat berita gembira dengan syurga. Ketika itu ia mengingat teman akrabnya di kala di dunia lalu in berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya fulan adalah teman akrabku, dia yang menganjurkanku berlaku taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Dia yang mengajakku melakukan kebaikan dan mencegahku melakukan kemungkaran. Dia juga yang menyadarkanku akan pertemuan dengan-Mu. Ya Allah jangan Engkau sesatkan dia sepeninggalku sampai Engkau memperlihatkan kepada-nya kenikmatan yang Engkau berikan padaku dan sampai Engkau meridhainya sebagaimana Engkau ridha kepadaku,” Maka Allah berkata kepadanya, “Pergilah, seandainya engkau tahu yang Aku berikan kepadanya pasti engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis. “
Kemudian teman akrabnya itu meninggal dan ruh mereka bertemu. Dikatakan pada mereka, “Saling memujilah kalian kepada sahabat kalian.” Maka masing-masing mereka mengatakan, “Dia adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik saudara, sebaik-baik sahabat….”
Duhai indahnya. Pertemuan yang sangat mengesankan dan penuh kegembiraan.
Saudaraku,
Banyak kisah-kisah yang ditinggalkan para salafusoleh tentang keadaan mereka setelah meninggal dunia. Di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Aku mimpi bertemu Sufyan Ats Tsauri beberapa hari setelah ia meninggal dunia. Aku bertanya padanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu sekarang?” Ia menjawab, “Aku bertemu Muhammad (SAW) dan pasukannya..”
Dalam kisah lain, Ibnu Abid Duniya menyebutkan sebuah riwayat dari Yaqzhah binti Rasyid yang bercerita, “Marwan Al Mahlamy adalah tetanggaku. Dulu dia seorang hakim dan bersungguh-sungguh dalam ibadah ketika meninggal dunia aku menangkap kegembiraan yang terpancar dari mukanya. Tak berapa lama setelah itu aku mimpi bertemu dengannya, seperti layaknya mimpi yang terjadi dalam tidur. Aku bertanya, “Wahai Abu Abdullah apa yang Allah lakukan terhadap dirimu.“ Ia menjawab, “Allah memasukkan aku ke dalam syurga,” jawab-nya. “Kemudian apalagi?” “Aku dipertemukan dengan golongan kanan,” jawabnya. Kemudian apa lagi?” “Aku dipertemukan dengan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah.” Aku bertanya, “Siapa orang yang engkau lihat di sana?” tanyaku. “Aku melihat Al Hasan bin Sirrin dan Maimun bin Sayyah,” jawabnya.
Seperti itulah keadaan mereka setelah meninggalkan dunia. Bertemu dengan orang-orang yang dahulunya menjadi teman dan penghias hari-hari mereka. Orang-orang soleh yang menjadi ingatan mereka dalam hidup. Mereka itulah yang akan menemaninya di alam akhirat.
Saudaraku,
Hati-hatilah menyusuri jalan kebersamaan dengan orang-orang soleh. Waspadalah untuk tidak melakukan penyimpangan, yang membuat kesenjangan diri kita dengan mereka. Salim bin Abi Ja’ad mengatakan bahwa Abu Darda pernah berkata, “Hendaklah seseorang berhati-hati bila ia dibenci oleh hati orang-orang beriman dari arah yang tidak ia sadari.” Kemudian sahabat Abu Darda bertanya, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan kata-kata itu?” Salim mengatakan bahwa ia tidak mengerti. Abu Darda menjelaskan, “Yaitu seorang hamba bermaksiat kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu Allah menghunjamkan kemarahan-Nya dalam hati orang-orang beriman tanpa ia sadari.” (Al-Hilya: 1/215)
Kemarahan hati orang beriman, adalah kesengsaraan. Kebencian orang-orang yang beriman adalah pangkal kesempitan dan penderitaan. Kerana merekalah sebenarnya yang dapat mengubah dunia dengan segala permasalahannya menjadi indah. Mulut-mulut merekalah yang menuangkan nasihat dan membicarakan kalimat demi kalimat yang dapat menentramkan hati. Lidah-lidah merekalah yang menyiram hati kita untuk senantiasa berada dalam keridhaan dan tidak terlalu jauh menyimpang dari ridha Allah SWT. Tangan-tangan merekalah yang menuntun kita. Telapak tangan merekalah yang tertengadah di malam sunyi dan gelap malam hingga memberi kekuatan iman dalam diri kita. Ingatlah sabda Rasulullah SAW tentang do’a seorang mukmin di tengah malam yang dijamin diterima Allah SWT.
Saudaraku,
Bersahabat dengan mereka, akan mendekatkan kita pada Allah. Dan ketaatan kita pada Allah, juga akan mendekatkan kita pada mereka. Ibnu Asakir meriwayatkan, Abu Darda‘ menulis surat pada Maslamah bin Makhlad. “Seorang hamba jika ia telah berbuat kebajikan untuk taat kepada Allah, maka Allah mencintainya. Bila Allah telah mencintainya, Allah akan menjadikan makhluk cinta padanya. Dan bila ia bermaksiat pada Allah, maka Allah akan memarahinya. Bila ia telah dimarahi olehNya, Maka Allah akan menjadikan seluruh makhluk benci padanya.” (Al Kanz, 8/255)
Semoga Allah menghimpun kita dalam golongan orang-orang yang mendapat ridha-Nya di akhirat.
Amin Allahuma amin..
P.S. Tuntuni aku hingga ke syurga.

Hanya Sebuah Persinggahan

Sebuah renungan..
‘Usahlah kau menagih belas kasihan dari manusia,
kerana belas kasihannya sekejap sekejap saja.
Bila kau sebatang kara dan menangis,
mungkin manusia akan mendengar keluhanmu,
tapi sekejap sekejap saja.
Mereka akan bosan pada satu ketika,
kerana itulah tabiat manusia.
Lebih parah bila kau di uji si muka-muka
yang gelumang nifaq dan cinta dunia
Kecuali mereka yang telah dikurniakan Allah
rahmat pada jiwa-jiwanya.
(Quran, 12:53)
Palingkan wajahmu hanya kepada Dia -
yang lebih dekat dari urat lehermu,
yang lebih Menyayangi dan Mengasihanimu..
walaupun kau sering saja lupa taat,
sujud dan bersyukur di atas segala nikmat,
yang telah zahir kepadamu dan yang tidak terlihat
..bahkan kau selalu saja derhaka dan bermaksiat.
Jika sedikit ditarik nikmat-Nya,
kau pasti terduduk, ternganga.
Tiada manusia yang terlalu gagah untuk hidup tanpa Allah.
Jangan kau zalimi diri.. jangan kau berulah,
jangan kau zalimi orang yang lemah,
kerana Yang Membalas dan Membelanya adalah Allah.
Al-Jabbar, Yang Maha Gagah
Bila sakit, ingat.
Bila suka, lupa.
Sedarlah.
Malulah.
Beradablah kepada Allah.
Sebelum berakhir perjanjian,
antara jasad dan jiwa.’
Duhai Tuhan Pemilik Arasy yang Agung,
kepada-Mu kuserah jiwa dan raga,
Apa yang telah Kau tetapkan sebagai anugerah,
akan tetap sebagai anugerah.
Tanpa-Mu aku kan hilang segala-galanya.
Pandangan Kasih dan Rahmat-Mu, yang kurayu dan kudamba,
sehingga ke penghujung nyawa.
P.S. Memandang dia, aku pun ingat pada-Nya. Dan cinta pada Sang Pencipta, yang menjadikan aku sebagaimana adanya, semakin membening. Subhanallah, Maha Besar Engkau ya Rabbi, yang telah memberi anugerah pertemuan ini. Rahmatilah jiwa-jiwa kami, sebagaimana Engkau rahmati jiwa-jiwa yang muthma’inah. Kekalkanlah persaudaraan kami, dalam mulianya budi pekerti dan murninya ikhlas – fi sabilillah.. sehingga ke syurga-Mu, selamanya. (Amin ya Allah)

Ayat 5

DALAM al-Quran, ada lima ayat dalam beberapa surah yang mengandungi khasiat. Lima ayat itu lebih dikenali sebagai ayat Nashr, yang bermaksud suatu ayat yang boleh digunakan sebagai penolong atau pendinding diri.

Mengikut pendapat ulama, ayat lima itu mempunyai pelbagai faedah termasuk:
  • Sebagai penolak sebarang kejahatan manusia, jin, syaitan dan binatang buas.
  • Sekiranya dibaca di hadapan musuh atau seteru, insya-Allah akan terjaga daripada sebarang kejahatannya.
  • Dapat menimbulkan kewibawaan dan kehebatan diri di depan musuh ketika di medan perang hingga mereka gerun.
  • Jika dijadikan suatu wirid (amalan yang berterusan) tiap selesai sembahyang fardu, maka segala hajat yang diingini akan dikabulkan Allah.
  • Sesiapa yang membaca selepas Subuh dan solat Maghrib secara istiqamah akan dikekalkan dalam jawatannya dan dinaikkan pangkat.
Ayat pertama adalah daripada surah al-Baqarah ayat 246, yang bermaksud: “Apakah kamu tidak memerhatikan pengikut Bani Israil sesudah Nabi Musa iaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Lantiklah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah kepemimpinannya) di jalan Allah. Nabi mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mahu berperang di jalan Allah, pada hal kami dihalau dari kampung halaman kami dan daripada anak kami? Maka tatkala perang itu diwajibkan ke atas mereka, lalu mereka pun berpaling kecuali beberapa orang saja antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui ke atas orang yang zalim.”
Ayat kedua bermaksud: “Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami adalah kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka yang membunuh nabi tanpa sebarang alasan yang benar. Dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kamu azab yang membakar.” (Surah Ali Imran, ayat 181).
Ayat ketiga daripada surah an-Nisa, ayat 77 yang bermaksud: “Tidakkah kamu perhatikan orang yang dikatakan kepada mereka, Tahanlah tanganmu (daripada berperang), dirikanlah sembahyang dan keluarkan zakat.” Setelah diwajibkan ke atas mereka berperang tiba-tiba sebahagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti mana ketakutannya kepada Allah, malah lebih daripada itu dalam ketakutannya lalu mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tangguhkan (kewajipan berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi! Katakanlah, “Kesenangan dunia itu hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”
Ayat keempat daripada surah al-Maidah, ayat 77, bermaksud: “Ceritakanlah kepada mereka mengenai kisah kedua-dua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya ketika kedua-duanya dipersembahkan korban, maka terimalah (korban) daripada seorang antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata, “Aku pasti akan membunuh.” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima korban daripada orang yang bertakwa.”
Ayat terakhir daripada surah al-Ra’du, ayat 16, bermaksud: “Katakanlah siapakah Tuhan langit dan bumi? Jawablah, Allah, katakanlah, Patutkah kami mengambil perlindunganmu selain Allah, pada hal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri.”

Doa untuk Kesejahteraan Dunia dan Ahkirat

Doa ringkas selepas solat



Maksudnya:

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan pentadbir seluruh alam. Selawat dan sejahtera semoga dilimpahkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad yang semulia-mulia pesuruh-Nya, serta ke atas keluarga dan sekalian sahabat-sahabatnya.

Ya Allah, wahai Tuhan kami, hidupkan kami dengan iman, matikan kami dalam iman, serta masukkan kami ke dalam syurga bersama-sama iman.

Ya Allah, ya Tuhan kami, ampunilah segala dosa kesalahan kami dan dosa-dosa kesalahan kedua ibu bapa kami, serta kesihanilah kedua ibu bapa kami sebagaimana mereka berdua mengasihani kami semasa masih kecil.

Ya Allah, akhirilah umur kami dengan kesudahan yang baik dan janganlah kiranya Engkau akhirkan umur kami dengan kesudahan yang tidak baik.

Ya Allah, ya Tuhan kami, janganlah kiranya Engkau pesongkan iman kami sesudah Engkau kurniakan kepada kami petunjuk. Anugerahilah kami rahmat kerana sesungguhnya Engkau Maha Pengurnia.

Wahai Tuhan kami, kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia ini dan juga di akhirat, dan peliharalah kami daripada azab neraka.

Semoga Allah mencucuri rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad dan ke atas seluruh keluarga dan sahabat-sahabat baginda. Dan segala puji itu tertentu bagi Allah, Tuhan pentadbir seluruh alam.

Jadikan Amalan Harian

Bismillah Enam

Bismillah Enam
Bismillah Enam
  • Makbul segala hajat dan cita-cita.
  • Luas rezkinya.
  • Jika ditiup kpd perempuan nescaya kasih ia kepada kita.
  • Menang dalam peperangan.
  • Penerang hati.
  • Diajuhkan dari segala penyakit.
  • Dibaca 70 kali tiap-tiap hari aman dari ancaman raja-raja dan pembesar yang zalim yang hendak membunuhnya.
  • Dibaca ditempat yahng suci nescaya dapat melihat malaikat, jin dan syaitan.
  • Dibaca dimalam jumaat 20 kali boleh melihat orang didalam kubur.
  • Aman daripada binatang2 buas.
  • Air laut menjadi tawar.
  • Terlepas daripada terkena bunuh juka dibaca kepada tubuh badan.
  • Jika ditulis dan dijadikan azimat atau dibaca pada sawah aman daripada ancaman babi, tikus atau burung.
  • Terselamat daripada bahaya musuh dan seteru.
  • Terselamat dari karam dilaut.
  • Jika dibaca pada minyak malam jumaat tiga kali boleh memudahkan perempuan beranak jika meminumnya.
  • Orang yang pekak jika dibaca pada telinganya selam 7 hari nescaya mendengar.
  • Orang gila atau yang dirasuk oleh iblis apabila dibaca ditelinga tiga kali insyaallah lari iblisnya.
  • Boleh tawarkan segala jenis bisa termasuk bisa sengat binatang seperti lebah, ular dan ikan.
  • Boleh tawarkan segala jenis racun dan santau, seperti yang diperbuat daripada miang rebung, ulat buku mati beragan, hempedu katak dan sebagainya.
  • Terkeluar daripada penjara apabila dibaca bersungguh-sungguh.
  • Dijadikan jampi untuk menghalau jin dan syaitan.
Cara untuk merawat pesakit yang menderita kerana perkara diatas; latakkan tangan ditempat yang sakit, tahan nafas dan baca al-Fathihah dan juga ayat Bismillah Enam ini. Tiup tempat tersebut dah urut sedikit. Baca juga ayat ini pada air untuk disapukan pada tempat yang sakit dan untuk di minum. Angin akan keluar darpi pesakit dan diikuti oleh muntah, insyaallah.
Doa ini juga boleh digunakan kepada binatang yang termakan rumput yang diracun atau yang dipatuk ular. Kaedah rawatannya adalah dengan memberi makan rumput dan meminum air yang telah dibacakan dengan doa diatas.
AMAL LAH BISMILLAH ENAM INI KERANA IANYA MENJADIKAN SEGALA JENIS RACUN AKAN TAWAR DAN TIDAK MEMBERI MUDHARAT KEPADA PENGAMAL KALAU TERMINUM. GELAS YANG MENGANDUNGI RACUN AKAN PECAH KALAU DIPEGANG OLEH PENGAMAL BISMILLAH ENAM. INSYAALLAH.